“KONSEP
NASAKOMNYA BUNG KARNO”
Soekarno memulai karirnya dengan tulisannya yang berjudul Nasionalisme,
Islamisme, dan Marxisme. Ini terbukti dari pada tahun 1926 ketika ia
berusia 25 tahun, Seokarno menulis artikel tentang Nasionalisme, Islamisme,
dan Marxisme, dalam artikel ini ia berusaha mempertemukan dan menyatukan
antara ketiga aliran ideologi dalam memeperjuangkan bangsa indonesia dari
anti-kolonial. Ketiga aliran tersebut adalah nasionalis, agamis, dan marxis.
Nasionlis yang dimaksud adalah sekelompok golongan yang benar-benar
memperjuangkan bangsa indonesia ini tanpa intervensi agama, sedangkan Agamis
adalah golongan para ummat muslim yang berjuang melawan penjajahan untuk
kemerdekaan bangsa indonesia, dan Marxis adalah para kaum sosialis yang juga
menginginkan kebebasan bangsa indonesia dari intervensi asing dan dari tekanan
para kaum kapitalis.
Marxis yang dimaksud disini bukanlah kaum komunis (anti tuhan)
melainkan kaum sosialis yang tidak menginginkan penindasan dan kesenjangan
sosial dibangsa indonesia ini, pemikiran ini bung karno banyak mengambil dan
mengutip dari pemkiran marxis barat, seperti konsepnya Karl Marx, Karl Kautsky (Sosialis-Demokrat Jerman), Jean
Jaures (Sosialis Perancis), PJ Troelstra (Sosialis Belanda), dan Hendriette
Roland Holst (pengarang kiri Belanda), dan yang lainnya. Konsep barat inilah
yang kemudian dikolaborasikan oleh soekarno dengan konsep para pemikiran
indonesia seperti Tjokroaminoto, Hayam wuruk, Gajah mada, dan lain-lain.
Ketiga aliran tersebut yang kemudian disatukan oleh soekarno dalam
satu konsep yaitu dinamakan NASAKOM (nasionalis, agamis, dan komunis) dengan
tujuan mempersatukan ketiga elemen atau ideologi tersebut untuk bersama-sama
melawan penjajahan dan menentang kapitalis imperialis demi tercapainya
kesejahteraan, kedamaian dan kemerdekaan bangsa indonesia ini.
Pemikiran Nasakom bung karno ini tidak hanya dilihat dari satu
konsep pemersatu saja namun juga merupakan sebagai suatu motivasi masyarakat
indonesia yang secara bersama-sama dalam memperjuangkan kemerdekaan indonesia
dari segala bentuk tekanan intervensi negara lain, serta menjalin hubungan
dengan negara-negara berkembang yang kekayaannya juga dikeruk oleh
negara-negara maju atau para penjajah.
Konsep nasakom inilah yang kemudian berkembang dan menjadi sebuah
sumbangsih dalam pencetusan ideologi pancasila yang dijadikan sebagai landasan
dasar bangsa indonesia, seperti konsep Sosio-nasionalis dan Sosio-demokrasi
yang ditulis bung karno dalam artikelnya pada tahun 1930-an, yang kemudian
dikembangkan oleh soekarno dalm pancasila menjadi sila 3 dan 4.
Namun pada akhirnya konsep nasakom ini banyak dipertanyakan dan
dipertimbangkan oleh para tokoh maupun pemerinthan apakah nasakom ini sebagai
solusi dalam mempersatukan rakyat indonesia ataukah nasakom ini sebagai racun
bagi persatuan bangsa indonesia ini, seperti yang terjadi ketika pada orde baru
yang mempermasalahkan kaum komunis.
Zaharuddin. M
Comunitas bengkel penulisan "Paragraf"
Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama' (STAINU) Jakarta.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar